Kamis, 28 Juli 2011

Skin Architecture


Ya,Arsitektur hanya sebagai kulit. Ketika zaman sekolah dulu langgam ini pernah diajarkan. Dan setiap arsitek pasti pernah mengalaminya.
Skin Architecture, kalimatnya terdengar keren.Tetapi apa yang saya alami cukup membuat saya berpikir sejenak. Ya, seminggu yang lalu saya baru saja dimintai tolong membantu renovasi sebuah ruko.
Saya diminta membantu membuat desain Facade Ruko dengan menggunakan Cladding. Ya, kata Skin disini benar - benar hanya sebuah kulit / topeng secara harfiah.
Denah dan facade lama dari ruko tetap dipertahankan,hanya renovasi biasa tanpa ada desain baru.Hanya renovasi cat, plester dan sebagainya. Dan yang cukup menarik lagi, Skin yang ada hanya ada pada lantai 2.Lantai bawah tetap dipertahankan dengan tampilan asli (pintu harmonika).Hmmm
Berikut desain facade ruko saya lampirkan,

Rabu, 15 Juni 2011

Material Baru




Ya. Material Baru. Ketika proses desain berjalan.Bahkan ketika proses pondasi di lapangan telah dimulai, beberapa orang klien saya meminta untuk merubah warna yang ada.
Begitu juga dengan klien saya yang termuat dalam artikel Orientasi Pasar sebelumnya.
Dikarenakan hasil perhitungan RAB yang menurutnya terlalu tinggi, beliau meminta saya melakukan sedikit terhadap desain yang telah ada. Terutama terhadap beberapa material yang cukup mahal (misal batu alam menjadi warna cat saja, pengurangan talang beton atap, pengecilan ukuran kusen). Ya, begitulah.
Setiap arsitek pasti sering mengalami proses perubahan. Meskipun proses pondasi dilapangan telah dimulai, hal tersebut bukanlah sebuah hambatan yang berarti.
Beberapa penghematan desain dilakukan (dalam arti desain tetap bagus namun harga berkurang). Terutama dari segi detailing material bahan. Meskipun terkadang perubahan yang ada cukup banyak, seorang arsitek harus berpikir untuk membuat perubahan yang ada tetap sesuai konsep awalnya. Bahkan menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dan satu hal yang pasti jika proses struktur telah berjalan, semaksimal mungkin tidak melakukan perubahan desain berarti terhadap struktur yang ada.
Nah disitulah tugas bagi para Arsitek yang menurut saya cukup menantang.
Selama proses desain terus berjalan , terkadang arsitek diharuskan membuat tampilan dengan Material Baru beberapa kali.
Berikut saya lampirkan beberapa proses perubahan material yang menghasilkan tampilan berbeda.Meskipun pada dasarnya konsepnya tetap sama dari artikel Orientasi Pasar.

Another Rumah Mungil


Salah seorang klien baru saya meminta saya untuk membantunya mendesainkan rumahnya yang cukup mungil.Dia memiliki rumah di Sutorejo Prima Utara yang merupakan kawasan cukup terkenal di awal era 90an.Mengingat usia bangunan yang cukup uzur dan hampir semua tetangganya telah membangun ulang rumah mereka (bukan sekedar renovasi), dia ingin membangun ulang.
Ukuran tanahnya cukup mungil hanya 7x15 m, itupun harus terpotong GSb 3 m. Hmmmmm. Ya, akan tetapi karena memiliki usaha catering dia meminta saya untuk memberikan ruang dapur dan pantry yang cukup luas.Serta tetap memiliki taman terbuka.Sehingga LT 2 terpaksa benar - benar hanya saya fungsikan sebagai area Bedroom dan servis tanpa kecuali.
Ya dengan sisa tanah hanya 7x12 m dengan semua kebutuhan ruang yang ada dan kebutuhan ruang terbuka terlihat cukup kurang. Ya itulah tugas para arsitek, yang membuat saya benar - benar harus berpikir keras. Hmmmm.
Rumah Mungil adalah sebuah Desain yang menarik, karena keterbatasan ruang yang ada dengan kebutuhan ruang yang diperlukan selalu menuntut perlakuan khusus dari para Arsitek.
Dan saya bersyukur telah berkali -kali mengalaminya.
Berikut saya lampirkan image desain Rumah Mungil ini. Pembangunan akan dimulai pada 27 Juli 2011 tepat pukul 10.00 pagi.

Selasa, 07 Juni 2011

Classic + Modern


Beberapa waktu lalu, salah satu owner saya adalah seorang yang sangat berpengalaman.
Dia telah berkali - kali membangun rumah, sehingga cukup paham tentang Arsitektur. Apalagi, dia telah bekerjasama beberapa kali dengan seorang Arsitek yang menjadi dosen di sebuah Perguruan Tinggi Swasta cukup terkenal di Surabaya.
Satu hal yang saya pelajari dari dia adalah berdasarkan pengalamannya membangun, konsep tatanan denah yang dia inginkan sangat pakem. Benar- benar mengutamakan fungsional (ke arah Form Follow Function nya Le Corbusier, hampir tidak ada celah.
Dia juga memikirkan kesinambungan maintenancenya, sehingga tingkat kerusakan jangka pendek hampir bisa dipastikan kecil sekali. Jadi menurut saya sangat ke arah Modern.
Namun dalam hal desain Facade / Tampak, dia sangat menyukai ke arah klasik yang abadi.
Jadilah perpaduan antara keduanya, jika anda amati image berikut mungkin ada bisa memahaminya.

Senin, 09 Mei 2011

Perumahan


Beberapa waktu terakhir ini, saya sering bekerjasama dengan beberapa pengembang kelas menengah di kawasan Surabaya Selatan dan Sidoarjo.
Ternyata konsep desain yang mereka ajukan hampir sama (untuk ukuran pengembang menengah. Langgam Minimalis (agak menyesuaikan pasar yang ada), denah sangat efisien (semuanya sangat fungsional, tanpa ada ruang yang terbuang, bahkan ornamen pun seminimal mungkin jika tanpa fungsi. Jadi agak ke "Form follow Function" )
Dan yang terakhir adalah biaya konstruksi harus murah.
Ya, itulah yang menjadi konsep para pengembang kelas menengah saat ini.Sebagai arsitek, kita dituntut berpikir memenuhi konsep tersebut. Tetapi kita juga harus memastikan bahwa desain yang ada akan laku di pasaran.Ya, sebuah tanggung jawab yang besar.
Jika perlu kita survey dulu pendapat dari masyarakat umum mengenai desain yang ada.
berikut contoh salah satu desain permuahan menengah yang sedang kami kerjakan.

Rabu, 23 Maret 2011

Orientasi Pasar


Akhir - akhir ini di Surabaya (terutama kawasan perumahan yang dibangun oleh Developer besar) terjadi perubahan model desain arsitektur.Hampir semua pengembang
menghasilkan desain yang boleh dibilang sangat simple.
Baik dari segi denah maupun fasade-nya.Hanya saja mereka meng-close-nya dengan pemakaian material finishing yang cukup mewah sehingga konsumen tertarik.Baik batu alam, granite lantai sampai warna pun cukup dominan.
Padahal, desain simple ini sangat memudahkan para arsitek maupun pengembangnya.Beberapa waktu lalu seorang klien saya menunjukkan sebuah Rumah saudaranya yang baru beli di salah satu kawasan elite di Surabaya Barat dengan harga tertentu yang cukup besar. Dan ketika saya diminta mendesain Arsitektur yang se-langgam dengan desain tersebut dan memperhitungkannya.Maka saya peroleh angka hampir separuhnya dan sudah termasuk pembelian tanah di kawasan yang sama.
Hmm, kontan saja klien saya terkejut.
Ya, mungkin inilah salah satu strategi pemasaran pengembang saat ini.Hanya saja hal ini menurut saya akan membuat Desain Arsitektur yang ada terlalu berorientasi pasar.Dan saya agak kurang mendukung. Tapi ya inilah yang dominan sekarang dan malah disukai para klien saya.Berikut ini desain terbaru saya yang cenderung simple dan mengikuti dominasi yang ada.

Senin, 14 Maret 2011

Gambar Hidup



Ya, Gambar Hidup itulah yang paling tidak disukai olehb teman - teman saya yang berada dilapangan. Sebuah desain yang tidak pernah berhenti berubah meskipun telah memasuki tahap pelaksanaan struktur di lapangan.
Sebagai Arsitek saya sering mengalaminya, selalu ada saja permintaan klien untuk merubah beberapa bagian desain arsitektur yang ada.Dan biasanya hal tersebut terjadi seteleh mereke mendapat masukan pendapat dari orang(arsitek)lain.Dan adapula yang mendapat ilham setelah mereka liburan ke wilayah yang memilki konsep arsitektur cukup bagus (bali, singapura dll)
Hmm, begitu juga dengan proyek saya di Graha Family Kavling S-53 ini, meskipun lapangan telah dimulai tapi desain terutama detail2 Arsitekturnya selalu berubah.
Meskipun secara global boleh dibilang tetap, namun bagi saya hal ini adalah sebuah tantangan Arsitektural bagi setiap arsitek.
Berikut, saya lampirkan desain Graha S-53 terbaru